Laman

01 Desember, 2010

Berita Dalam Negeri

HARI AIDS SEDUNIA : Selamatkan Anak Indonesia dari Ancaman HIV AIDS

Penderita HIV di Indonesia meningkat semakin pesat. Bahkan ditengarai di Indonesia termasuk dengan laju pertumbuhan penderita kasus HIV AIDS yang tercepat di Asia. Dalam setahun diperkirakan terjadi 1 juta kasus baru HIV di Indonesia. Tragisnya 92% di antaranya adalah usia produktif termasuk anak dan remaja. Sampai bulan September 2009 DEPKES telah melaporkan jumlah penderita AIDS pada anak dibawah 15 tahun telah mencapai 464 anak.
Penderita HIV/AIDS pada bayi dan anak kian meningkat pesat. Bertambahnya prevalensi ini diduga mudahnya jalur penularan: selama kehamilan, persalinan atau selama menyusui. Odha yang tidak mendapat terapi ARV berisiko 15 – 45 persen anaknya tertular. Angka tersebut bisa ditekan dengan penggunaan ARV selama kehamilan, metode persalinan operasi sectio cesarean dan pemberian makanan pengganti ASI pada bayi baru lahir. Sementara diketahui bahwa risiko penularan HIV lewat ASI mencapai 5 – 20 persen.

HIV dan AIDS
Infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah infeksi virus yang secara progresif menghancurkan sel-sel darah putih dan menyebabkan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). AIDS adalah penyakit fatal yang merupakan stadium lanjut dari infeksi HIV. Infeksi oleh HIV biasanya berakibat pada kerusakan sistem kekebalan tubuh secara progresif, menyebabkan terjadinya infeksi oportunistik di berbagai bagian tubuh tertentu.
Jalur penularan yang relatif mudah tidak sebanding dengan pengobatannya. Pada awal kelahiran, diagnosa HIV sangat sulit ditegakkan lantaran si bayi terpapar dengan antibodi dari ibu hingga berusia 18 bulan. “HIV pada anak muncul dengan gejala dan tanda yang sangat bervariasi. Kebanyakan si anak mengalami malnutrisi, dan imunosupresi berat
Gejala umum yang sering terjadi pada anak adalah diare berkepanjangan, sering mengalami infeksi atau demam lama, tumbuh jamur di mulut, badan semakin kurus dan berat badan terus turun. Serta gangguan sistem dan fungsi organ tubuh lainnya yang berlangsung kronis atau lama. Secara primer HIV dan AIDS terjadi pada dewasa muda, tapi jumlah anak-anak dan remaja yang terkena semakin bertambah jumlahnya.

Mengancam anak di seluruh dunia termasuk Indonesia
Infeksi HIV dan AIDS pertama kali dilaporkan di Amerika pada tahun 1981 pada orang dewasa homoseksual, sedangkan pada anak tahun 1983. Enam tahun kemudian (1989), AIDS sudah merupakan penyakit yang mengancam kesehatan anak di Amerika. Di seluruh dunia, AIDS menyebabkan kematian pada lebih dari 8,000 orang setiap hari saat ini, yang berarti 1 orang setiap 10 detik. Karena itu infeksi HIV dianggap sebagai penyebab kematian tertinggi akibat satu jenis agen infeksius.
Sejak dimulainya epidemi HIV, AIDS telah mematikan lebih dari 25 juta orang; lebih dari 14 juta anak kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya akibat AIDS. Setiap tahun diperkirakan 3 juta orang meninggal karena AIDS; 500,000 diantaranya adalah anak di bawah umur 15 tahun. Setiap tahun pula terjadi infeksi baru pada 5 juta orang terutama di negara terbelakang dan berkembang; 700,000 diantaranya terjadi pada anak-anak. Dengan angka transmisi sebesar ini maka dari 37.8 juta orang pengidap infeksi HIV/AIDS pada tahun 2005, terdapat 2.1 juta anak-anak di bawah 15 tahun.

AIDS pada anak pertama kali dilaporkan pada tahun 1983 di Amerika Serikat. Sejak itu laporan jumlah AIDS pada anak di Amerika makin lama makin meningkat. Kasus infeksi HIV terbanyak pada orang dewasa maupun anak-anak tertinggi di dunia adalah di Afrika terutama negara-negara Afrika Sub-Sahara.
Di Asia Tenggara Thailand yang pertama kali melaporkan AIDS pada anak tahun 1988. Meskipun saat ini tingkat prevalens HIV masih tergolong rendah di Asia Tenggara, tetapi pertumbuhan prevalensnya saat ini paling tinggi sedunia. Penyebabnya adalah jumlah populasi yang besar, kemiskinan, ketidaksetaraan gender, dan stigmatisasi sosial. Negara dengan tingkat infeksi tertinggi adalah India, Thailand, Myanmar dan Indonesia. Umumnya infeksi di Asia Tenggara disebarkan melalui hubungan seksual heteroseksual yang tidak aman. Pemakaian jarum suntik tidak steril pada pencandu narkoba suntik menambah cepatnya penyebaran infeksi HIV. Sekitar setengah dari pengguna narkoba suntik di Nepal, Myanmar, Thailand, Indonesia dan Distrik Manipur dan Nagaland di India sudah terinfeksi HIV.
Kasus AIDS di Indonesia setiap tahunnya terus menunjukkan kecenderungan meningkat. Menurut laporan yang dikeluarkan Depkes hingga bula September 2009 jumlahnya mencapai 18442 kasus, 73,2 persen di antaranya dialami laki-laki dan 26,8% perempuan. Dalam waktu yang sama tersebut juga dilaporkan sudah 464 anak Indonesia berusia di bawah 15 tahun yang positif terinfeksi AIDS. Sebagian besar terinfeksi karena lahir dari ibu yang positif HIV. Hal inipun mungkin jumlahnya akan lebih besar lagi karena semua kasus belum tentu dilaporkan.
Kumulatif Kasus AIDS Menurut Golongan Umur
Golongan Umur AIDS AIDS/IDU
<1 170 0
1 – 4 194 0
5 – 14 107 7
15 – 19 551 128
20 – 29 9142 4806
30 – 39 5503 2032
40 – 49 1606 262
49 – 59 455 45
>60 94 8
Tak Diketahui 620 210

Penyebab dan penularan pada anak
Penularan infeksi HIV dari Ibu ke Anak merupakan penyebab utama infeksi HIV pada anak usia di bawah 15 tahun. Sejak HIV menjadi pandemic di dunia, diperkirakan 5,1 juta anak di dunia terinfeksi HIV. Hampir sebagian besar penderita tersebut tertular melalui penularan dari ibu ke anak.
Wanita sering tertular infeksi HIV melalui hubungan heterosexual dengan pasangan yang terinfeksi atau melalui penggunaan obat-obatan, Meningkatnya infeksi HIV pada anak adalah karena akibat penularan selama perinatal (periode kehamilan, selama dan setelah persalinan). Lebih dari 90% AIDS pada anak yang dilaporkan tahun 1994 terjadi karena transmisi dari ibu hamil ke anak.. Penularan terhadap bayi bisa terjadi selama kehamilan, persalinan atau postnatal melalui ASI. Angka kejadian penularan dari ibu ke anak diperkirakan sekitar 20% – 30%. Resiko penularan di negara berkembang sekitar 21% – 43%, lebih tinggi dibandingkan resiko penularan di negara maju sekitar 14%-26%. Penularan dapat tejadi saat kehamilan, intrapartum, dan pasca persalinan. Resiko infeksi penularan terbanyak terjadi saat persalinan sebesar 18%, di dalam kandungan 6% dan pasca persalinan sebesar 4%.
Penularan di dalam kandungan didiagnosis jika pemeriksaan virologis negatif dalam 48 jam pertama setelah kelahiran, selanjutnya tes minggu pertama menjadi positif dan bayi tidak menyusui Ibu. Selama persalinan bayi dapat tertular darah atau cairan vagina yang mengandung HIV melalui paparan virus yang tertelan pada jalan lahir. Pada ibu yang terinfeksi HIV, ditemukan virus pada cairan vagina 21%, cairan aspirasi lambung pada bayi yang dilahirkan. Besarnya paparan pada jalan lahir sangat dipengaruhi dengan adanya kadar HIV pada cairan vagina ibu, cara persalinan, ulkus serviks atau vagina, perlukaan dinding vagina, infeksi cairan ketuban, ketuban pecah dini, persalinan prematur, penggunaan elektrode pada kepala janin, penggunaan vakum atau forsep, episiotomi dan rendahnya kadar CD4 pada ibu.
Penularan HIV melalui ASI diketahui merupakan faktor penting penularan paska persalinan dan meningkatkan resiko tranmisi dua kali lipat. ASI diketahui banyak mengandung HIV dalam jumlah cukup banyak. Konsentrasi sel yang terinfeksi HIV pada ibu yang menderita HIV adalah 1 per 104 sel, partikel virus ini dapat ditemukan pada componen sel dan non sel ASI. Berbagai faktor yang dapat mempengaruhi resiko tranmisi HIV melalui ASI antara lain mastitis atau luka di puting, luka di mulut bayi, prematuritas dan fungsi kekebalan tubuh bayi. Penelitian yang telah dilakukan menyebutkan resiko tranmissi HIV melalui ASI diperkirakan adalah 3,2 per 100 anak pertahun. Keadaan penyakit ibu juga menjadi pertimbangan karena Ibu yang terinfeksi HIV mempunyai resiko kematian yang lebih tinggi dari yang tidak menyusui. WHO, Unicef dan UNAIDS mengeluarkan rekomendasi untuk menghindari Air Susu Ibu yang terkena HIV jika alternatif susu lainnya tersedia dan aman.
Pencegahan
Cara paling efisien dan efektif untuk menanggulangi infeksi HIV pada anak secara universal adalah dengan mengurangi penularan dari ibu ke anaknya (mother-to-child transmission (MTCT). Upaya pencegahan transmisi HIV pada anak menurut WHO dilakukan melalui 4 strategi, yaitu mencegah penularan HIV pada wanita usia subur, mencegah kehamilan yang tidak direncanakan pada wanita HIV, mencegah penularan HIV dari ibu HIV hamil ke anak yang akan dilahirkannya dan memberikan dukungan, layanan dan perawatan berkesinambungan bagi pengidap HIV. Pemberian obat Anti Retroviral (ARV) untuk anak dan bayi yang terinfeksi karenanya menjadi satu jalan untuk menanggulangi pandemi HIV pada anak di samping upaya untuk mencegah penularan infeksi HIV pada anak dan bayi.
Orangtua atau ibu dari bayi yang terpapar HIV harus menyadari masalah yang dihadapi anaknya sejak awal. Penentuan diagnosis HIV yang akan dihadapi penderita sangat berpengaruh pada orang tua dan keluarga. Ibu penderita harus diberikan informasi yang jelas tentang seringnya evaluasi pemeriksaan, kesulitan diagnosis awal infeksi HIV pada bayi, manfaat pemeriksaan untuk menentukan status infeksi bayi. Pemberian ARV dalam mengurangi resiko penularan, modifikasi dalam rekomendasi imunisasi, rekomendasi untuk tidak memberi ASI dan kewaspadaan untuk mencegah penyebaran penyakit. Sangatlah penting sebagai pencegahan.
Peningkatan kasus HIV memungkinkan terjadi peningkatan keterlibatan dokter khususnya dokter spesialis kandungan dan dokter anak dan tenaga medis lainnya dalam perawatan bayi yang terpapar HIV. Masyarakat khususnya yang beresiko terinfeksi HIV hendaknya juga turut aktif dalam pencegahan penularan HIV pada bayi yang akan dilahirkan. Skrening atau pemeriksan awal HIV pada Ibu hamil yang beresiko harus sudah menjadi tindakan rutin. Resiko dan potensi pada anak untuk terinfeksi HIV semakin meningkat pesat.
Untuk mencegah dalam kondisi yang lebih mangkawatirkan, maka pencegahan harus terus dilakukan. Momentum hari AIDS sedunia tanggal 1 Desember hendaknya jangan hanya dijadikan sekedar slogan. Mulai saat ini semua lapisan masyarakat tanpa terkecuali harus sadar bahwa ancaman AIDS sangat besar untuk generasi penerus bangsa ini. Kepedulian kita semua adalah dengan mengurangi kehidupan seks bebas, menghindari narkoba dan perilaku negatif lainnya adalah tindakan yang harus dikampanyekan terus menerus. Jangan sampai dosa dan perbuatan buruk orang tua menjadi beban kehidupan anak Indonesia di kemudian hari.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar